Rabu, 23 Desember 2009

suka duka kuliah di UI

Antara Tangis dan Tawa


Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya, kuterus berjanji akan penuhi pintanya…………………

Sebait lagu ini yang bisa menitikkan air mataku ketika mendengarkannya, aku yang terpisah oleh kedua orangtuaku karena harus menuntut ilmu di wilayah yang menurut kedua orangtuaku terlalu jauh jika harus ditempuh dengan perjalanan pulang pergi (PP). Hal yang paling membahagiakan didunia ini bagiku hanyalah melihat kedua orang tuaku tersenyum bangga padaku.

Ketika mendapatkan pengumuman diterima di Universitas Indonesia aku terdiam, kemudian aku sampaikan kepada kedua orangtuaku. Mereka sangat bahagia dengan berita yang aku sampaikan, mengapa aku terdiam? Aku tak tahu harus menangis atau tertawa, banyak sekali pertimbangan di otakku kala itu.

Universitas Indonesia yang semua orang sudah pasti tahu dengan biaya kuliahnya yang tidak terbilang murah. Bagiku itu relatif mahal, bagaimana dengan biaya semesteranku? Aku yang masih memiliki satu kakak yang juga masih duduk di bangku perkuliahan rasanya egois jika aku harus memaksakan diriku masuk ke Uinversitas Indonesia. Namun, ternyata orangtuaku menyanggupi biaya kuliahku.

Senang rasanya mendapatkan teman-teman baru di Universitas ini, yang sudah pasti otaknya pun telah terseleksi. Aku bangga dapat duduk di Unversitas ini, nantinya aku bisa mencari kerja yang aku inginkan atau bahkan bukan aku yang mencari kerja tapi kerjaan itu yang mencari ku. Semoga……..

Setelah berjalan pertengahan semester aku baru merasakan kejamnya universitas ini, dengan tugas yang sangat banyak dan kuliah yang sangat padat itu yang membuatku berkata Universitas ini kejam khususnya bagian akademik. Liburan lebaran yang sangat sempit, belum lagi liburan yang tidak tenang karena pasti setiap dosen mengoleh-olehkan paket liburan berupa tugas-tugas.se

Biaya kuliah yang cukup memberatkan ketika sudah masuk ke semester-semester berikutnya. Biaya kuliahnya pun tidak dapat diangsur, betapa bijaksananya ketika Universitas Indonesia mengadakan mekanisme pembayaran yang dapat diangsur. Semoga saja hal ini bisa terealisasikan.

1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus